Divisi HRD

Baru beberapa jam tadi saya rapat dengan rekan2 FIM SUMBAR, ternyata sangat menarik ketika kita sudah tidak lagi menceritakan hal2 yang masih berbau sekitar fakultas ataupun sekitar perkuliahan, ternyata ketika sudah mulai berbicara bagaimana cara kita mengabdi untuk indonesia itu menimbulkan semangat berbeda apalagi ketika sudah membahas teknis pelaksanaannya. Bagaikan energi besar yang timbul sehingga menumbuhkan semangat yang luar biasa.

Tapi satu hal yang saya rasakan dan saya yakin. Bahwa tak ada yang senikmat ketika berada di SPM, meskipun itu hanya mebahas masih berupa agenda-agenda saja, meskipun itu masih membahas program kerjanya dan meskipun itu masih belum ketemu titik temu waktu pelaksanaannya.
Sesekali saya membayangkan bagaimana semangatnya nanti ketika kita sudah mampu merealisasikannya. Ah, tidak- tidak, mungkin sekedar membahas teknis pelaksanaannya saja sudah begitu membahagiakan dan nikmat sekali.

Waah, ternyata saya sudah benar-benar rindu untuk berjumpa dengan anggota spm lainnya sambil membahas agenda kita kedepannya apalagi ketika dibumbui dengan semangat baru di setiap akhir rapatnya.

Read More …

Categories:


Jika jalan yang kita pilih ini terasa semakin berat, maka mulailah bernegosiasi dengan diri anda untuk menggunakan seluruh sisa-sisa kekuatan yang ada, beritahukan kepadanya bahwa jalan ini masih panjang masih banyak target-target yang bergelantungan dan seolah-olah berteriak dan terus memaksa sambil berkata "Segera Jemput Aku".
Selagi masih muda, selagi masih mahasiswa. maka gunakanlah setiap momen yang ada untuk membuat kisah yang baik dan inspiratif Untuk diceritakan kelak pada anakmu, kepada cucumu atau mungkin kepada seluruh masyarakat indonesia. Karna kita ada untuk INDONESIA BANGGA.
Betapa semangatnya ketika tulisan ini ditulis, jari2 ini terus memaksa dan terus memberontak untuk terus mengetuk permukaan layar ini untuk terus mecurahkan betapa besarnya semangat yang kini semakin membakar didalam dada, yang mengindikasikan Bahwa kita harus tetap bertahan, terus berjuang dan terus memberikan kontribusi untuk inonesia.
-Dayat 2015 ‪#‎DivisiHRD‬ grin emotikon 

#SangPenaklukMimpi #Foristek #BEM KM UNAND



Read More …

Categories:

Penulis : Yunanto Wiji Utomo | Jumat, 10 Agustus 2012 | 13:39 WIB



BANDUNG, KOMPAS.com — 10 Agustus 1995, pesawat buatan Indonesia N-250 terbang pertama kalinya. Momen tersebut kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas).

Jumat (10/8/2012) ini adalah tepat 17 momen itu berlalu. Momen ini dirayakan di Bandung dalam serangkaian acara, mulai dari RITech Expo di Sasana Budaya Ganesha, Triple Helix Conference, dan upacara di Gedung Sate hari ini.

Dalam paparannya di konferensi pers seusai upacara hari ini, insinyur dan mantan Presiden BJ Habibie mengajak Indonesia untuk merenungi apakah Indonesia kali ini merayakan kebangkitan atau keterpurukan dalam teknologi nasional.

Habibie menguraikan, 17 tahun lalu, generasi penerus bangsa tidak hanya menghadiahkan pesawat N250 kepada Indonesia. Mereka juga menghadiahkan kapal untuk 500 penumpang dan kereta api cepat.

"Hadiah HUT Kemerdekaan ke-67, apa yang dapat kita persembahkan pada Hari Kebangkitan Nasional, 17 tahun setelah prestasi membanggakan itu. Bagaimana industri strategis yang telah menghasilkan produk andalan yang membanggakan 17 tahun lalu itu?" kata Habibie.

Habibie menjelaskan, pembuatan produk-produk tersebut telah dihentikan pembinaannya. PT Dirgantara Indonesia yang dulu memiliki 16.000 karyawan, misalnya, kini hanya tinggal punya 3.000 karyawan yang akan pensiun dalam 3-4 tahun ke depan. Tak ada kaderisasi.

Badan Pengelola Industri Strategis yang memiliki turn over 10 milliar dollar AS dan 48.000 karyawan dibubarkan. Industri pesawat terbang, kereta api, mesin, elektronik, dan komunikasi tak lagi mendapat perhatian.

"Keppres No 1 Tahun 1980 tentang ketentuan penggunaan produk pesawat buatan dalam negeri dihapus dan PT DI tidak lagi didukung secara finansial maupun kebijakan industri pendukung lainnya," jelas Habibie.

Habibie menambahkan, biaya pengembangan pesawat dan SDM dihitung sebagai utang. PT DI tak lagi menitikberatkan pada rancang bangun pesawat. PT DI tak mampu melakukan regenerasi sehingga kredibilitas sebagai produsen pesawat terancam.

Pada saat yang sama, urai Habibie, Indonesia hanya menjadi konsumen teknologi. Pertumbuhan penumpang pesawat meningkat, tetapi industri pembuatan pesawat yang bisa memenuhi kebutuhan dihentikan.

Padahal, kata Habibie, dalam tiap industri strategis yang dilakukan, terkandung jam kerja yang mampu memberikan lapangan kerja, memeratakan pembangunan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan.

"Kita harus pandai memproduksi barang apa saja yang dibutuhkan di pasar nasional dan memberi insentif kepada siapa saja yang memproduksi di dalam negeri, menyediakan jam kerja, dan akhirnya lapangan kerja," tutur Habibie.

Saat ini, Indonesia lebih banyak menyediakan sumber daya alam untuk diolah negara lain. Saat akhirnya produk olahan dibeli di Indonesia lagi, sebenarnya Indonesia sedang membeli jam kerja negara lain. Dan, itu merupakan penjajahan.

Dalam kesempatan Hakteknas kali ini, Habibie punya tiga rekomendasi. "Rebut kembali jam kerja! Wujudkan kembali karya nyata yang pernah kita miliki untuk pembangunan peradaban Indonesia! Bangkitlah, sadarlah atas kemampuanmu!"

Editor :
A. Wisnubrata
Read More …

Categories:

sumber : okezone
Andina Librianty - Okezone
Selasa, 26 Juni 2012 10:10 wib
detail berita
Stephen Hawking (Foto: Telegraph)

LONDON – Fisikawan terkemuka dan ilmuwan dunia yang terkenal, Stephen Hawking sedang menguji perangkat inovatif untuk membuatnya bisa berbicara melalui gelombang otak pada sebuah projek, yang para ilmuwan ibaratkan sebagai “meretas ke dalam otaknya”.

Dilansir dari Telegraph, Selasa (26/6/2012), Hawking telah bekerjasama dengan para ilmuwan di Stanford University yang sedang mengembangkan sebuah iBrain, yaitu alat untuk menangkap gelombang otak dan mengkomunikasinnya melalui komputer

Ilmuwan berusia 70 tahun ini memiliki penyakit motor neuron dan kehilangan kemampuan berbicara hampir 30 tahun lalu. Saat ini, dia menggunakan komputer untuk berkomunikasi tapi seiring kondisi yang semakin memburuk dia semakin kehilangan kemampuannya.

Dia kemudian bekerja dengan Philip Low, seorang profesor di Stanford dan penemu iBrain yang merupakan sebuah pemindai otak yang mengukur aktivitas listrik. “Kami ingin menemukan cara “melewati” tubuhnya, seperti meretas otaknya,”

Rencananya, para peneliti akan mengungkap hasil terbaru penelitian mereka pada konferensi di Cambridge bulan depan, dan juga akan menunjukkan teknologi tersebut pada Hawking.

Dalam sebuah rilis untuk konferensi itu, Hawking dan Low menggambarkan bagaimana fisikawan telah belajar untuk membuat pola impuls dengan membayangkan menggerakkan tangan dan anggota badan.

Diharapkan, teknologi ini akan menjadi lebih maju dan bisa mengenali aktivitas otak yang lebih canggih dan mengubahnya menjadi kata-kata. Para ilmuwan berharap bisa secepat mungkin “membaca pikiran seseorang”, yang memainkan peran utama dalam terobosan medis.

“Ini sangat menarik bagi kami, karena ini memungkinkan kami memiliki jendela untuk melhat ke dalam otak. Kami sedang membangun teknologi yang memungkinkan manusia memiliki akses ke otak manusia untuk pertama kalinya,” ungkap Low.

Dengan begitu, kata Low, seperti membuka kemungkinan menghubungkan gerakan yang diinginkan ke perpustakaan kata-kata dan mengubahnya menjadi pidato. “Sehingga memberikan penderita motor neuron alat komunikasi yang lebih bergantung pada otak daripada tubuh,” jelasnya.

Musim panas lalu, Low melakukan perjalanan ke Cambridge dan akhirnya bertemu dengan Hawking. Low diminta untuk berpikir dengan sangat keras tentang menyelesaikan berbagai tugas sambil menggunakan perangkat tersebut.

Selain membaca pikiran, perangkat itu juga memililiki aplikasi medis potensial, seperti membuatkan daftar iBrain untuk membantu dokter menentukan resep obat berdasarkan respon gelombing otak sesorang.

Selain itu, Low mengatakan bahwa iBrain bisa gunakan untuk membantu mengobati gangguan tidur, depresi, dan bahkan autisme. “Ini adalah langkah pertama untuk obat pribadi,” pungkasnya.
(amr)
Read More …

Categories: