Bagaimana Cara Menciptakan Matahari?

Bagaimana cara manusia
bisa menciptakan Matahari ? Mungkinkah ? Tentu saja mungkin. Kira-kira seperti ini resepnya.


1. Matahari, intinya adalah bola plasma Hidrogen dan Helium raksasa. Itu saja. Jadi untuk menciptakan Matahari, kita cuma perlu... Hidrogen. Dan Hidrogen kan banyak di Bumi, seperti Air (H2O). Helium nanti akan tercipta dari fusi Hidrogen.

2. Lalu, Hidrogen yang sudah didapat kita rubah dulu jadi Hidrogen yang agak berat, namanya D dan T, Deuterium dan Tritium (2H dan 3H). Deuterium bisa didapat dari Air, dan Tritium bisa didapat dari batu alam (Lithium). Gampang kan? (Hehe).

3. Masukan semua bahan-bahan ini ke dalam wadah bulat sebesar kacang polong..

4. Lalu untuk memanaskannya, ibu-ibu, gunakan fokus energi dari 192 Laser raksasa untuk memanaskan bahan-bahan ini sampai suhu yang ekstrim, 100 juta derajat Celcius, dan tekanlah sampai milyaran kali tekanan atmosfir Bumi. Nyalakan.

5. Tunggu sebentar.. (bahkan tidak sampai 1 detik),... Bummm!!@#$!

6. Jadilah Matahari Miniatur kita.

7. Selamat menikmati, lebih enak selagi panas.
Ilmuwan di NIF Lab yang super canggih

Saat ini para ilmuwan
sedang berusaha menciptakan Matahari Tiruan menggunakan energi 192 Laser Raksasa di NIF, National Ignition Facility, Livermore, California. Ini adalah mesin laser terbesar yang pernah diciptakan umat manusia, dan berkekuatan 100 kali lebih besar dari yang pernah dibuat sebelumnya.

Dan tujuannya begitu dahsyat, menciptakan energi baru yang begitu besar dan tidak akan pernah mungkin habis sepanjang umur manusia. Inilah energi Fusi Nuklir, energi raksasa yang membuat bintang-bintang raksasa terbakar selama milyaran tahun lamanya.

"One gallon of seawater would provide the equivalent energy of 300 gallons of gasoline. Fuel from 50 cups of water contains the energy equivalent of two tons of coal."


National Ignition facility, "How to Make A Star"

Read More …

Rabu, 25 Juli 2012 11:01 wib
detail berita
ilustrasi WiFi gratis (Foto:GettyImage)
BANDUNG – Upaya pemerintah untuk memasyarakatkan internet hingga ke pelosok desa kian gencar. Ada mobil internet di tingkat kecamatan, hingga pemasangan Hotspot hingga ke tingkat Rukun Warga (RW).

Di Bandung, Jawa Barat, sebanyak 1.563 RW di Kota Bandung akan mendapatkan fasilitas Hotspot secara cuma-cuma. Sekda Kota Bandung Edi Siswadi mengungkapkan, dengan pencanangan yang ditargetkan pada Oktober ini, bisa dimanfaatkan seluruh warga.

"Pemasangna fasilitas Hotspot internet di semua RW ini baru satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia. Bahkan London sebuah negara maju belum terpikirkan," katanya, Rabu (25/7/2012).

Dia berharap, dengan pemasangan Hotspot diseluruh RW, warga Kota Bandung bisa mendapatkan akses informasi secara maksimal. Keberadaan Hotspot di setiap RW, menurutnya disinergikan dengan program RW-Net yang berfungsi sebagai e-Payment atau pembayaran elektronik.

"Sudah disinergikan dengan program sebelumnya RW- Net yang melakukan pembayaran elektronik seperti bayar iuran ke PD Pasar, PDAM juga bisa beli token PLN," terangnya.

Tidak hanya itu, kehadiran Hotspot ini juga bisa mempermudah akses informasi antara warga dan juga pemangku kebijakan jajaran Pemkot Bandung. "Akses informasi yang disampaikan warga berupa
keluhan dan masukan bisa dipantau langsung oleh Wali Kota, Wakil dan tentunya Sekda," jelasnya.
(amr)
Read More …

Categories: ,

 sumber : okezone
Nur Syafei - Sindo TV
Selasa, 26 Juni 2012 11:09 wib
detail berita
Logo ITS Surabaya
PERNYATAAN bahwa sampah yang selama ini menjadi permasalahan rumit dan meresahkan warga perkotaan karena bau dan kotor, ternyata tidak selamanya benar.

Di Surabaya, justru sampah berhasil menciptakan pembangkit listrik bertenaga sampah. Hasil pengolahan listrik dari sampah tersebut rencananya akan dipergunakan untuk penerangan di lingkungan kampus ITS.

Bambang Sudarmanta, dosen teknik mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS Surabaya) itu adalah sang pencetus ide. Guna mewujudkan itu, sehari-hari waktunya dihabiskan  dalam rumah kompos kampus ITS Surabaya.

Ide membuat energi listrik dari sampah ini, bermula dari banyaknya sampah yang menumpuk di sekitar kampus ITS, seperti bekas makanan para mahasiswa, serta sampah organik dedaunan di area kampus ITS.

Melihat kondisi itu, dosen bergelar doktor itu, tercetus ide untuk membuat pembangkit listrik bertenaga sampah, agar lingkungan di kampus ITS tetap bersih, bebas dari sampah.

Proses pengerjaanBambang menjelaskan lebih jauh bagaimana proses pengerjaannya. Menurutnya, proses pengolahan sampah untuk menjadi energi listrik sendiri melalui program pengolahan sampah di ITS akan dilakukan dengan tiga cara, yakni pembakaran, gasifikasi dan fermentasi.

Pada proses pembakaran, hingga mencapai 600 bar, sampah yang telah dipilah akan dikelompokan dalam beberapa kategori. Lalu,  panas dari pembakaran tersebut di alirkan ke turbin untuk menggerakan generator dan menghasilkan listrik. Kategori sampah anorganik yang tidak bernilai ekonomis akan dibakar dalam insenerator dan dimanfaatkan untuk memanaskan ketel.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan metode gasifikasi. Metode ini berbeda dengan metode sebelumnya karena tidak dilakukan pembakaran. Dalam metode ini, sampah yang berupa biomassa akan diubah menjadi synthetic gas yang kemudian akan dimurnikan kembali. Gas yang telah dimurnikan tersebut akan digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel atau mesin bensin.

Selain dua cara tersebut, Bambang dan timnya juga telah mengembangkan metode lain yakni metode fermentasi. Diakui olehnya, metode ini belum pernah diterapkan pada sampah.

Untuk 4 sampai 6 jam beroperasinya, alat pembangkit listrik tenaga sampah ini, dapat menghasilkan energi listrik sebesar 2 kilo watt dan listrik tersebut dapat langsung di gunakan dan juga bisa di simpan dalam baterai atau accu untuk penerangan malam hari.

"Banyak sampah yang menumpuk, kami bakar kemudian panasnya di alirkan untuk menggerakkan generator, " kata Bambang Sudarmanta, pembuat pembangkit listrik dari sampah.

Rencana ke depan, listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga sampah ITS ini, akan digunakan untuk sumber eergi penerbangan lampu dikawasan kampus ITS.

****
Alat pembangkit listrik tenaga sampah, karya Bambang ini, telah menelan biaya hingga sekira Rp200 juta dan diharapkan menjadi contoh bagi beberapa daerah yang masih krisis listrik.

Ia menyakini bahwa cara ini juga bisa menjadi alternatif. Ia menyebutkan, beberapa waktu yang lalu cara ini telah berhasil mengubah kotoran sapi menjadi bahan bahar untuk mesin bensin dan diesel.

Untuk mensukseskan program ini, Bambang juga dibantu oleh Ikatan Alumni (IKA) ITS dalam pengadaan alat. “Tidak semua alat bisa dibeli oleh ITS. Syukurnya, alumni juga mau ikut membantu,” tutup Bambang, seperti dikutip situs resmi ITS.
(amr)
Read More …

Categories:

Amril Amarullah - Okezone
Selasa, 22 Mei 2012 13:31 wib
detail berita
Muhammad Luthfi Nurfkahri pemenang ketiga asal Indonesia (Foto:Intel)
JAKARTA - Jack Andraka, 15 tahun, dari Crownsville, Amerika Serikat, patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, diusianya yang masih dini, pelajar ini menyabet gelar pertama untuk penemuan metode baru alat pendeteksi kanker pankreas. 

Jack berhasil memenangkan anugerah itu pada acara Intel International Science and Engineering Fair tahun 2012 sebagai bagian dari program Society for Science & the Public, di Amerika.

Dengan menggunakan medium berbasis kertas tes diabetes, Jack berhasil menciptakan sensor celup sederhana untuk menguji darah atau urin untuk menentukan apakah pasien mengidap kanker pankreas stadium awal.

Hasil kajian itu memiliki akurasi lebih dari 90 persen dan menunjukkan bahwa sensor ciptaannya yang akan segera dipatenkan ini 28 kali lebih cepat, 28 kali lebih murah dan lebih dari 100 kali lebih sensitif dibandingkan perangkat tes yang telah ada saat ini.

Melalui pencapaiannya itu, Jack berhak menerima penghargaan Gordon E. Moore, sebuah penghargaaan senilai USD 75.000 yang diberikan untuk menghormati salah satu pendiri dan mantan CEO serta komisaris Intel.

Bukan hanya Jack, pelajar asal Indonesia, Muhammad Luthfi Nurfakhri dari SMA Negeri 1 Bogor juga tidak kalah hebat. Dia berhasil memenangkan peringkat ketiga dalam ketegori teknik (elektris dan mekanik) dan mendapatkan penghargaan sebesar US$ 1.000 untuk proyeknya yang berjudul ‘Digital Leaf Color Chart’.

Santhosh Viswanathan, Chief Representative Intel Indonesia mengatakan, kegiatan ini penting untuk terus digalakkan, mengingat ilmu pengetahuan dan matematika menjadi faktor penting untuk pertumbuhan global di masa depan.

"Kami mendukung penuh kegiatan Intel International Science and Engineering Fair (ISEF), demi untuk kemajuan dan pertumbuhan global di masa mendatang,” kata Santhosh Viswanathan, melalui rilis yang diterima Okezone, Selasa (22/5/2012).

Pada tahun ini, lebih dari 1.500 ilmuwan muda turut bersaing dalam ajang Intel International Science and Engineering Fair. Mereka ini dipilih dari 446 kompetisi serupa di sekitar 70 negara, wilayah dan teritori.

Dikesempatan yang sama, Deva Rachman, Corporate Affairs Director Intel Indonesia menyatakan, dalam kondisi ekonomi global seperti saat ini, Intel menyadari bahwa rasa ingin tahu, pemikiran kritis, serta pondasi kuat di bidang matematika dan sains merupakan hal yang penting dimiliki oleh sumber daya manusia Indonesia untuk bisa memiliki daya saing tinggi di masa depan.


(fmh)
Read More …

Categories:

Hari Istiawan
Jum'at, 04 Mei 2012 10:02 wib
Nando dan Nurul mengubah urine menjadi bahan bakar mobil. (Foto: Hari Istiawan/okezone)
Nando dan Nurul mengubah urine menjadi bahan bakar mobil. (Foto: Hari Istiawan/okezone)
MALANG - Dua siswa SMAN 10 Kota Malang, Nurul Inayah dan Nando Novia berhasil menjuarai lomba teknologi International Young Inventors Project Olympiad (IYIPO) di Tbilisi, Georgia. Keduanya berhasil menyisihkan 101 peserta dari 40 negara dan mendapat medali emas atas prestasinya tersebut.

Kedua siswa ini berhasil menyabet penghargaan internasional dengan penelitiannya yang mengubah urine menjadi energi listrik melalui Photo Electro System. "Listrik sudah diuji coba untuk menggerakkan mobil radio kontrol," kata Nando yang juga ketua dewan riset muda SMA Negeri 10 Malang, kemarin.

Nando menjelaskan, dia bersama Nurul mengaku telah melakukan penelitian ini selama tiga bulan. Hanya dengan memanfaatkan listrik tenaga surya, kata Nando, mereka bisa mengubah urine menjadi hidrogen yang dapat menghasilkan listrik. Listrik ini dapat menggerakkan mobil yang mampu melaju dengan kecepatan 60 kilometer per jam. "Satu liter urine dapat menghasilkan listrik untuk melaju 17 kilometer," kata Nando.

Menurut Nando, proses elektrolisasi satu liter urine membutuhkan waktu 1,5 menit. Selain itu, urine yang digunakan hanya urine dari manusia sehat. Sebab, urine yang mengandung unsur gula atau kimia lain akan menganggu proses elektrolisasi. Urine dipilih karena proses elektrolisasi lebih efisien hanya membutuhkan catu daya 0,37 volt, bandingkan dengan air yang membutuhkan listrik 1,2 volt.

Mereka telah merencanakan alat tersebut ditanam di sebuah mobil dengan perkiraan perhitungan mencapai Rp50 juta untuk merealisasikan alat tersebut dapat menggerakkan mobil listrik. Keduanya bercita-cita merealisasi mobil listrik berbahan bakar urine tersebut dan berharap dukungan dana dari sponsor. Saat ini, mereka juga sudah mengajukan hak paten atas temuan tersebut dan berharap dukungan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dalam ajang kompetisi teknologi itu, Indonesia diwakili tiga tim. SMA Negeri 10 Malang bertarung dalam kategori teknologi. Kategori fisika diwakili siswa SMA Aceh dengan membuat alat pendeteksi kemurnian minyak goreng. Temuan ini  dianugerahi mendapat medali perak. Sedangkan SMA Tangerang berlomba dalam kategori kimia dengan meneliti air bermagnet untuk meningkatkan pertumbuhan kecambah. Tim SMA Tangerang mampu meraih medali perunggu.(rfa)
sumber : okezone 
Read More …

Categories: